Cerita tentang teh dimulai lebih dari empat setengah ribu tahun yang lalu. Menurut mitologi Cina, pada 2737 SM Kaisar Cina, Shen Nung, cendekiawan dan dukun, sedang duduk di bawah pohon sementara pelayannya merebus air minum. Artikel ini dipersembahkan oleh kebayadiva.com, tempatnya anda untuk mencari macam-macam model kebaya modern brokat tren terbaru 2018 saat ini.Banyak hal yang akan dapat anda peroleh dari artikel berikut ini.

Daun dari pohon itu jatuh ke air dan Shen Nung memutuskan untuk mencoba minumannya. Pohon itu adalah pohon teh liar. Sejak awal teh terkenal karena khasiatnya sebagai minuman menyegarkan dan sehat. Pada abad ketiga Masehi banyak cerita diceritakan dan ada yang menulis tentang teh dan manfaat minum teh, tapi baru pada saat Dinasti Tang (618 Masehi – 906 M), teh menjadi minuman nasional China dan kata ch’a adalah digunakan untuk menggambarkan teh.

Minum teh telah dipraktekkan di seluruh dunia selama ratusan tahun. Dari istana kekaisaran Cina kuno ke kamar teh Rusia, dari upacara minum teh Jepang ke toko teh desa Inggris, efek menenangkan, penyembuhan dan menyegarkan teh telah dihargai dan dipahami oleh banyak orang.

Teh adalah minuman yang menyegarkan secara alami dan dikonsumsi sendiri tanpa kalori, jadi minuman yang sempurna untuk membuat Anda terlihat sehat dan merasa bugar. Saat dikonsumsi dengan susu, empat cangkir teh sehari dapat memberi Anda nutrisi dalam jumlah yang signifikan: kira-kira 17% asupan kalsium yang direkomendasikan, 5% untuk seng, 22% untuk Vitamin B2, 5% untuk asam folat, dan Vitamin B1 dan B6.

Secangkir teh juga merupakan sumber mangan yang baik, yang penting untuk perkembangan fisik secara umum, dan potassium yang membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh Anda.

Ada sebuah tradisi Tionghoa yang masih bertahan di Indonesia, minum teh. Awal mulanya tradisi ini dibawa oleh seorang Kapten China di kawasan Glodok.

Di sebuah meja kecil terdapat tulisan ‘Tradisi patekoan, silahkan minum, teh untuk kebersamaan, teh untuk masyarakat’. Ternyata ada kisah dibalik tradisi itu.

Tradisi itu dimulai oleh kapiten Gan Djie dan istrinya. Kapten kapal warga China ketiga tersebut selalu meletakkan 8 teko teh untuk pedagang keliling dan orang-orang yang kelelahan di depan kantornya.

Kantornya sendiri berlokasi di di daerah Patekoan atau di jalan Perniagaan sekarang. Delapan teko ini menjadi asal mula nama daerah Patekoan.

Semangat solidaritas keberagaman ini kemudian oleh Lin Che Wei, dicoba dituangkan ke gedung apotek chung hwa yang terletak di jalan pintu besar selatan yang sekaligus merupakan mulut jalan pancoran Glodok.

Gedung Apotek itu merupakan gedung pertama di mulut pintu gerbang kawasan inti kota tua jakarta yang telah dinominasikan kementrian pendidikan dan kebudayaan kepada UNESCO sebagai situs warisan dunia, meski belum termasuk sebagai cagar budaya, keberadaan bangunan tersebut sejak 1928 menjadikan gedung ini sebagai saksi penting kawasan glodok.

Awal mula derah tersebut di sebut Glodok menurut warga setempat diambil dari suara air yang mengalir dari pancuran kanal. Suaranya berbunyi, grojok, grojok. Sehingga akhirnya menjadi Glodok. sedangkan pancuran sendiri mengilhami nama Pancoran. Kawasan ini memiliki peran penting dalam proses berdirinya kota Batavia.

Di jalan Pancoran in, gedung apotek Chunghwa berdiri , gedung yang dimiliki perseorangan ini kemudian direvitalisasi selama 16 bulan sejak September 2014 dan diresmikan pada tangal 15 Desember 2015 .Gedung ini kemudian difungsikan sebagai rumah teh bernama Pantjoran Tea House.

Saat tengah berada di kawasan Glodok, silahkan berkunjung dan menikmati teh yang disediakan secara cuma-cuma dan nikmati kisah patekoan yang coba dibagi rumah teh ini. Teh ini disediakan setiap hari, saat akhir pekan teh akan lebih cepat habis dibandingkan saat hari kerja. Berita menarik seputar prediksi piala dunia 2018.